Senin, 06 Februari 2012

BERBAGI semakin MENJADI

bismillah...
Assalamu'alaikum wr. wb.



"Detakan itu begitu terasa
 Setiap ku akan dan Setelah melakukannya
Apakah ini kenikmatan itu???
Kenikmatan yang membuatku hilang
Sesaat...  Dan kembali lagi
.."

Selasa, 31 Januari 2012

HUKUM BUAS DI BAWAH -.-"

Assalamu'alaikum...
Alkhamdulullah akhirnya posting juga..

aku sangat sedih akan masa depan bangsa.ku
akankah kelak anak cucu ku masih menikmati menjadi WARGA NEGARA REPUBLIK INDONESIA..???
keadilan sudah tidak adil, keamanan sudah tidak aman lagi, kesejahteraan hanya untuk "mereka" yang berduit, kejahatan sudah seperti bayangan (selalu saja ada).
NARKOTIKA jaman sekarang kayak permen, siapa-pun boleh beli dan dimana pun tersedia
PENCABULAN udah kayak Games, mulai dari anak-anak, sopir angkot, anggota DPRD, bahkan yang paling MEMALUKAN ustadz pun ada yang cabuL.
KORUPSI bagaikan perdagangan,
Astaghfirullah...
Ampunilah kita semua Ya Allah...

sekarang yang aku sorot adalah tentang KEADILAN
sobat-sobat ku sekalian percaya gak, bahwa HUKUM di Indonesia saat ini BUAS di BAWAH...?

 



oke,,, aku kasih tau
Dalam dunia hukum dikenal istilah "lex dura sed tamen scripta". Hukum itu harus kaku, keras, dan juga kejam. Hukum harus diterapkan apa adanya dan tidak boleh diskriminatif, agar bisa memberikan penjeraan serta membuat semua orang takut untuk melanggar hukum.
Di dalam konteks itu, tentunya kita menghargai kegigihan Kejaksaan untuk menegakkan hukum. Demi memperjuangkan tegaknya keadilan, jaksa membawa  hingga tingkat kasasi kasus pencurian enam piring yang dilakukan Nenek Rasminah.
Kegigihan jaksa akhirnya diterima oleh Mahkamah Agung. Nenek Rasminah yang dinyatakan bebas pada pengadilan tingkat pertama dan juga banding, dinyatakan bersalah pada tingkat kasasi dan dijatuhi hukuman penjara 4 bulan 6 hari. -www.metrotvnews.com-

ada lagi kasus pak muhsan, dituduh mencuri 5 (LIMA) butir kelapa yang ia tanam sejak sekitar tahun 1989-1990 di ladangnya sendiri. bayangkan ini DI LADANGNYA SENDIRI, ia telah menjalani sidang dan jadi terdakwa.

Dan satu lagi, AAL, pasti tau kan kasusnya??..
yang bikin malu itu ini sob
"AAL didakwa mencuri sandal merek Eiger nomor 43. Namun, bukti yang diajukan adalah sandal merek Ando nomor 9,5." -internasional.kompas.com-

dan yang paling bikin aku GEREGETAN adalah
"Dalam sidang, saat hakim Rommel F Tampubolon dan sejumlah pengacara AAL bertanya, bagaimana Rusdi yakin itu sandal miliknya, Rusdi menjawab, ”Saya ada kontak batin saat melihat sandal itu.” Saat hakim meminta mencoba, tampak jelas sandal Ando itu kekecilan untuk kaki Rusdi yang besar." -http://internasional.kompas.com/read/2012/01/06/08404914/AAL.dan.Misteri.Dua.Merek.Sandal.Jepit.Butut-

ooohhh sh*T... what a F*ck
hanya karena "saya ada kontak batin saat melihat sandal itu" si AAL di giring ke persidangan

Ya Allah... maafkanlah pak polisi yang suka main hati ini
semoga ia tidak patah hati
Amin...

mungkin ketikan-ketikan diatas sangat GEJE dan sepele. Namun ini sebagai bukti bahwa aku prihatin sama Bangsaku yang seperti ini.
aku ingin Bangsaku seperti DULU
Disegani dan Ditakuti
aku ingin merasakan gemetar seperti yang kakek ku alami ketika mendengar pidato BUNG KARNO
kata-kata beliau bisa mengubah musuh menjadi teman seperjuaangan.
Naga bonar juga bilang, maling pun jadi pejuang. Sangat berbeda dengan sekarang, kalau sekarang PEJABAT pun bisa jadi MALING

Astaghfirullah....
AMPUNI KAMI YA ALLAH....
AKU MOHON DENGAN SANGAT...
BERI KAMI PEMIMPIN YANG ADIL, PEMIMPIN YANG PATUT DIJADIKAN CONTOH, PEMIMPIN YANG BIJAKSANA, PEMIMPIN YANG MAMPU MEMAKMURKAN WARGA NEGARANYA
seperti Nabi Muhammad SAW. dan juga Umar bin khottob RA.
Amin..

wassalam..

Senin, 23 Januari 2012

Mangkel... kesel... Marah ...???

Sebenarnya apa sih sob yang bikin kita kesel atau orang jawa menyebutnya mangkel, dan pada akhirnya berbuah kemarahan, permusuhan dkk???
pasti jawabannya Banyak.... ya kan???

S A L A H ..!!!!

Jika sesuatu yang tidak sesuai dengan kita dan langsung dimasukkan dalam hati, yang ada kita akan mengalami 5M ; Mudah Mangkel, Mudah Marah dan pasti akan berakhir dengan Malu
Malu sendiri akan mengakibatkan 3M; Malu Meminta Maaf
dan... Malu Meminta Maaf juga punya efek tersendiri yaitu 2M. dan ini yang membuat kita bisa kehilangan orang-orang yang ada di sekitar kita, yaitu Malu Menyapa. Sekarang gini... gimana mau akur kalu menyapa aja malu, ya kan??

aku dulu juga gitu (sekarang lebih parah, hahahhaha....)
dulu aku sering dikit-dikit marah dikit-dikit marah, akhirnya aku mikir... marah kok tanggung banget. marah ya marah jangan cuma sedikit nanti nambah lagi (dikira makan apa ya..). atau sekarang marah, besok ndak, lusa marah lagi.. (marah kok di kridit -_-" )

Setelah aku melakukan adegan-adegan DDM (Dikit-Dikit Marah) aku malu sendiri sob.. sumpah..aku malu.
bagaimana gak malu sob... ternyata penyebab mangkel dan marah.ku selama ini adalah ego.ku yang gak kesampaian (lucukan??? ketawa donk..!!!)
disitu timbul kata-kata

"EMANG KEHIDUPAN INI MILIK AKU DOANK APA??"

dari situ  sebelum aku marah aku mencari alasan yang tepat uintuk marah dan selanjutnya aku marah.se.marah.marah.nya
(enak kan gak tanggung-tanggung.. langsung KONTAN )

itu juga belum bener Sob.. aku masih malu se malu malu nya
Malu pada ALLAH, aku pengeeeen banget masuk Sorganya, tempat yang penuh dengan kenikmatan abadi.
aku malu karena ku belum bisa meniru sikap dan sifat sang kekasih-Nya, yaitu Rosulullah..Beliau di lempari kotoran setiap kali melewati jalan itu, namun begitu tau sang pelempar sakit Beliau malah dengan ikhlas menjenguknya
dan lagi.. ketika Rosulullah dilempari batu sampai pelipis Beliau berdarah, Para malaikat sudah siap untuk mengangkat gunung dan melemparnya ke tempat pelaku. Beliau dengan bijak berdo'a semoga anak cucu mereka menjadi orang yang ahli ibadah..
Subhanallah...

Sungguh masih jauh perjalanan ku untuk meniru sifat dan sikap Beliau

Sabtu, 21 Januari 2012

Aku, cinta, akar

Aku ingin cintaku seperti akar.
Memeluk bumi seolah tak ingin mati

Aku ingin cintaku seperti akar
Merambat...
Menjalar....  memenuhi hatimu

Aku ingin cintaku seperti akar
Tulus mendalam menopang hidup

Aku ingin cintaku seperti akar
Inti dari sebuah kehijauan

Aku ingin cintaku seperti akar
Akar...seakar-akarnya

Aku ingin cintaku seperti akar...

Kamis, 19 Januari 2012

A K U .... ????

Siapakah aku ini Tuhan??
kenapa aku selalu merasa kurang atas rizqi yang Engkau berikan..
pantaskah aku disebut manusia dan menjadi khalifah di bumi-Mu??
ku lihat ayam begitu ikhlas berusaha mencari rizqinya hari ini.
ia pun tak seserakah aku,
tak sedikitpun ia menimbun rizqi. ia tak pernah mengeluh "BESOK AKU MAKAN APA"
sedangkan aku???
lalu siapakah aku ini Tuhan??
apakah benar aku serendah itu??
aku melihat ANJING.pun punya rasa berterima kasih ketika seseorang memberinya makanan dengan caranya sendiri
sementara aku???
seriing sekali lupa (bisa dikatakan melupa) betapa kerasnya perjuangan IBU melahirkanku waktu itu. bukan hanya melahirkan, beliau juga merawatku hingga aku sebesar ini.
sementara kata terima kasih ku sering terucap untuk orang yang memberi "sedikit" kebahagiaannya untukku
masih pantaskah aku menjadi hamba-Mu??
aku minder seminder-mindernya pada Rosulullah yang telah Engkau kirimkan sebagai aku masih tergolong jauh dari sikap mulia Beliau.
aku malu Ya Allah...
sangaaaat... malu sekali
setiap ku berdo'a aku selalu meminta SURGA-Mu
tempat dimana orang-orang mulia berkumpul.
satu hal yang aku tahu
Engkau MAHA SEGALANYA
Engkau Maha pengampun,
seluas apapun dosaku aku yakin ampunan-Mu pasti lebih luas
sebesar apapun dosaku aku yakin dan tak satu pun ragu dalam hatiku bahwa ampunan-Mu lebih besar
Ya ghofar...
izinkan Hamba-Mu ini memohon ampun..
aku mohon dengan sangat izinkan aku menjadi manusia yang layak menjadi kholifah, manusia yang layak menjadi Hamba-Mu
Amin....






nb. terinspirasi oleh pertanyaan kang ridwan ttg SIAPAKAH AKU INI TUHAN??
tnkz ya kang...
tnkz juga untuk sobat-sobat yang sudah meluangkan waktu untuk membaca ini
salam geje \\(n_n)o
wassalam...

Rabu, 11 Januari 2012

Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah)

Sob.. aku dapet crita nih.. silahkan baca..

Rp. 1.500,- = Rp. 600.000,- (matematika Allah)

sujud-011“Tidak ada satu maksud apa pun ketika menuliskan cerita ini, semoga Allah menjaga hati ini dari sifat riya meski sebiji zarah pun.” [ Bayu Gawtama]
Jum’at lalu, saya berangkat ke kantor dengan dada sedikit berdegub. Melirik ukuran bensin di dashboard motor, masih setengah. “Yah cukuplah untuk pergi pulang ke kantor”.
Namun, bukan itu yang membuat dada ini tak henti berdegub. Uang di kantong saya hanya tersisa seribu rupiah saja. Degubnya tambah kencang karena saya hanya menyisakan uang tidak lebih dari empat ribu rupiah saja di rumah. Saya bertanya dalam hati, “makan apa keluarga saya siang nanti?” Meski kemudian buru-buru saya hapus pertanyaan itu, mengingat nama besar Allah yang Maha Melindungi semua makhluk-Nya yang tawakal.
Saya berangkat, terlebih dulu mengantar si sulung ke sekolahnya. Saya bilang kepadanya bahwa hari ini tidak usah jajan terlebih dulu. Alhamdulillah ia mengerti. Soal pulangnya, ia biasa dijemput tukang ojeg yang -sukurnya- sudah dibayar di muka untuk antar jemput ke sekolah.
Sepanjang jalan menuju kantor saya terus berpikir, dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk menjamin malam nanti ada yang bisa dimakan oleh isteri dan dua putri saya. Urusan besok tinggal bagaimana besok saja, yang penting sore ini bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimakan.
Tiba di kantor, tiba-tiba saya mendapatkan sebungkus mie goreng dari seorang rekan kantor yang sedang milad (berulang tahun). Perut saya yang sejak pagi belum terisi pun mendesak-desak untuk segera diisi. Namun saya ingat bahwa saya tidak memiliki uang selain yang seribu rupiah itu untuk makan siang. Jadi, saya tangguhkan dulu mie goreng itu untuk makan siang saja.
Sepanjang hari kerja, terhitung dua kali saya menelepon isteri di rumah menanyakan kabar anak-anak. “sudah makan belum?” si cantik di seberang telepon hanya menjawab, “Insya Allah,” namun suaranya terasa getir. Saat itu, anak-anak sedang tidur siang.
Pukul lima sore lebih dua puluh menit saya bergegas ke rumah. Sebelumnya saya sudah berniat untuk menginfakkan seribu rupiah di kantong saya jika melewati petugas amal masjid yang biasa ditemui di jalan raya. Sayangnya, sepanjang jalan saya tidak menemukan petugas-petugas itu, mungkin karena sudah terlalu sore. Akhirnya, sekitar separuh perjalanan ke rumah, adzan maghrib berkumandang. Motor pun terparkir di halaman masjid, dan seketika mata ini tertuju kepada kotak amal di pojok masjid. “bismillaah. ..” saya masukkan dua koin lima ratus rupiah ke kotak tersebut.
Usai sholat, setelah berdoa saya meneruskan perjalanan. Tapi sebelumnya, tangan saya menyentuh sesuatu di kantong celana. Rupanya satu koin lima ratus rupiah. Kemudian saya ceploskan lagi ke kotak amal yang sama.
Sesampainya di rumah, isteri sedang memasak mie instan. Semangkuk mie instan sudah tersaji, “kita makan sama-sama yuk…” ajak si manis. Kemudian saya bilang, “abang sudah kenyang, biar anak-anak saja yang makan”. Anak-anak pun lahap menyantap mie instan plus nasi yang dihidangkan ibu mereka. Rasanya ingin menangis saat itu.
 ***
 Keesokan paginya, isteri menggoreng singkong untuk sarapan. Alhamdulillah masih ada yang bisa dimakan. Sebenarnya hari itu masih punya harapan. Seorang teman isteri beberapa hari lalu meminjam sejumlah uang dan berjanji mengembalikannya Sabtu pagi. Namun yang ditunggu tidak muncul. Bahkan ketika terpaksa saya harus mengantar isteri menemui temannya itu, pun tidak membuahkan hasil.
Tiba-tiba telepon saya berdering, “Pak, saya baru saja mentransfer uang satu juta rupiah ke rekening bapak. Yang empat ratus ribu untuk pesanan 20 buku bapak yang terbaru. Sisanya rezeki untuk anak-anak bapak ya…” seorang sahabat dekat memesan buku karya saya yang terbaru.
Subhanallah, Allahu Akbar! Saya langsung bersujud seketika itu. Saya hanya berinfak seribu lima ratus rupiah dan Allah membalasnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Ini matematika Allah, siapa yang tak percaya janji Allah? Yang terpenting, siang itu juga saya buru-buru mengeluarkan sejumlah uang dari yang saya peroleh hari itu untuk diinfakkan.
 ***
Saya bersyukur tidak memiliki banyak uang maupun tabungan untuk saya genggam. Sebab semakin banyak yang saya miliki tentu semakin berat pertanggungjawaban saya kepada Allah.

mantap kan??

Selasa, 10 Januari 2012

bintang kecil

sinar bintang memang tak se cerah mentari
sirnarnya pun tak  cukup tuk dampingi kaki melangkah
bisakah bintang menjadi mentari???bintang masih belum siap tuk  menjadi mentari yang kau inginkan
ia terlalu kecil tuk mencerahi
ia terlalu rapuh
terlalu rapuh tuk menopang sejuta keinginan
sinar bintang...
kecil di tengah luasnya langit hitam
sinarnya tak cukup menerangi malam namun tulus menghiasi